Infrastruktur Indonesia 2014 Ke Depan: Sebuah Pandangan Selektif
1. Menangani tantangan inf rast ruktur Indones ia
untuk men ingkatkan daya saing dan per tumbuhan
Kelemahan infrastruktur merupakan salah satu
penghalang utama bagi Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ke tahap yang
lebih tinggi…
Rendahnya tingkat pembangunan infrastruktur
menghalangi potensi pertumbuhan dan laju pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Tanda-tanda dari rendahnya investasi infrastruktur selama lebih dari satu
dekade termasuk peningkatan kemacetan di daerah perkotaan, tingginya biaya transportasi
kargo antar pulau, pemadaman listrik dan terbatasnya akses terhadap fasilitas
sanitasi yang baik. Peringkat Indonesia termasuk yang paling rendah dibanding
negara-negara lain di wilayah yang sama dalam hal kualitas infrastruktur dan
kurangnya ketersediaan infrastruktur tersebut selalu disebut oleh
perusahaan-perusahaan sebagai hambatan dalam operasional dan investasi mereka.
Infrastruktur yang buruk juga dapat membawa dampak negatif terhadap
kesejahteraan penduduk melalui berbagai jalur lainnya. Dampak terhadap
kesehatan dapat segera terlihat dalam hal air kotor dan fasilitas sanitasi
sementara biaya transportasi yang tinggi menghalangi akses terhadap fasilitas
kesehatan dan pendidikan. Lemahnya keterkaitan infrastruktur antar daerah juga
dapat memperburuk situasi jika terjadi gejolak, seperti yang berhubungan dengan
cuaca, karena sulitnya memindahkan produk antar wilayah.
Pemerintah Indonesia memahami pentingnya
penanganan tantangan infrastruktur Indonesia dalam rencana jangka panjang …
Memahami masalah-masalah ini, Pemerintah telah
memberikan komitmennya untuk menghadapi tantangan infrastruktur sebagai salah
satu prioritas utamanya. Hal ini ditekankan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah untuk periode 2010-2014 yang menetapkan sasaran-sasaran pembangunan
infrastruktur yang akan dicapai pada tahun 2014. Termasuk di dalamnya adalah
pembangunan jalan tol sepanjang 2,800 km,penambahan kapasitas pemasangan
listrik sebesar 3000 MW per tahun, peningkatan rasio pemasangan listrik, dan
meningkatkan akses terhadap air dan sanitasi untuk memenuhi target Millennium
Development Goal (MDG). Seperti dibahas pada bagian selanjutnya, peningkatan
infrastruktur juga merupakan fokus dari Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2011-2025.
… dan juga dalam kebijakan jangka pendek
Prioritas untuk belanja infrastruktur juga
terlihat dalam alokasi anggaran dan kebijakan akhir-akhir ini. Sebagai contoh,
alokasi belanja modal di tahun 2011 sebesar 40 persen relatif terhadap anggaran
yang direvisi tahun 2010. Akan tetapi, seperti dibahas pada Bagian A, tantangan
pencairan anggaran masih tetap ada dan harus diatasi. Terdapat perkembangan
positif terhadap peraturan perundangan yang mendukung seperti pendirian Unit
Manajemen Risiko pada Kementerian Keuangan dan penetapan Perpres 67/2005 yang
menetapkan kritera yang berlaku untuk proyek Kemitraan PemerintahSwasta yang
membutuhkan dukungan keuangan Pemerintah. Undang-undang Pengadaan Tanah juga
telah disampaikan kepada DPR. Masih banyak masalah yang masih harus ditangani,
termasuk dalam meningkatkan koordinasi kebijakan pada berbagai tingkat di
Pemerintahan. Bagian ini memberikan ulasan singkat terhadap tren dan kinerja
investasi infrastruktur yang terjadi belakangan ini di Indonesia.
Investasi Indonesia dalam bidang infrastruktur
turun dengan tajam pasca krisis keuangan Asia pada akhir 90an dan hanya pulih
sebagian. Walaupun telah pulih sebagian, tingkat investasi Indonesia dalam
infrastruktur masih berada di bawah tingkat sebelum krisis tahun 1997/1998
(Gambar 23). Investasi infrastruktur turun dari di atas 8 persen dari GDP di
tahun 1995 dan 1996 menjadi sekitar 3 persen di tahun 2000 dengan penekanan
Pemerintah pada konsolidasi fiskal dan pemotongan hutang publik. Investasi BUMN
dan pihak swasta pada sektor infrastruktur juga menurun. Sebagai akibatnya
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan bagi investasi
infrastruktur pada akhir tahun 90an. Sejak itu, tingkat investasi hanya
meningkat secara perlahan, hanya ke sekitar 4 persen dari PDB di tahun 2008-09
(Gambar 23). Walaupun data antar negara cukup sulit untuk didapat, angka-angka
ini masih tergolong rendah dibanding beberapa negara lain di wilayah yang sama.
Sebagai contoh, laporan Bank Dunia tahun 2005 dengan judul “Connecting East
Asia: A New Framework for Infrastructure” memperkirakan tingkat investasi
infrastruktur terhadap PDB di Cina, Thailand dan Vietnam berada di atas 7
persen. Walaupun rasio optimal atau rasio yang tepat untuk investasi
infrastruktur terhadap PDB untuk suatu negara akan bergantung pada
faktor-faktor khusus negara tersebut seperti infrastruktur yang ada,
kualitasnya, letak geografis dan tujuan pembangunan, dampak dari tingkat
investasi belakangan ini dapat terlihat dari ukuran kualitas infrastruktur yang
buruk di Indonesia.
Sebagai akibatnya, kualitas infrastruktur
Indonesia adalah salah satu yang paling rendah di wilayahnya… Terbatasnya
investasi pada pemeliharaan dan infrastruktur yang baru terlihat dari rendahnya
peringkat kualitas infrastruktur (Gambar 24), walaupun nilainya secara umum
sejalan dengan tren berdasar tingkat pendapatan per kapita. Peringkatnya
relatif serupa pada transportasi dan pasokan energi (Gambar 25). Laporan
“Indonesia Competitiveness Report 2011” dari World Economic Forum yang baru
dikeluarkan menyoroti kualitas infrastruktur sebagai faktor penghalang dari
peningkatan lebih lanjut peringkat daya saing Indonesia.
Peringkat ini mencerminkan makin buruknya kondisi
jalan-jalan, peningkatan kemacetan lalu-lintas di daerah-daerah perkotaan,
terbatasnya kapasitas pelabuhan dan kebutuhan modernisasi rel kereta api. Data
yang tersedia akan kondisi jalan-jalan memberikan beberapa kuantifikasi dari
tren tersebut. Sejak tahun 2005, bagian dari jalan-jalan daerah dengan kondisi
yang stabil (dengan penilaian kondisi baik atau cukup) telah merosot secara
bertahap (Gambar 26). Karena jalan-jalan tersebut merupakan bagian terbesar
dari keseluruhan jaringan jalan, tren ini tidak dapat mengimbangi peningkatan
yang terjadi pada jalan nasional berdasarkan proporsi kondisi yang stabil dari
keseluruhan jalan. Pada tahun 2009, 63 persen dari keseluruhan jaringan jalan
berada pada kondisi yang stabil, 22 persen pada kondisi buruk dan 15 persen
rusak, dibanding dengan kondisi pada tahun 2001 dengan 68 persen stabil, 19
persen buruk dan 13 persen rusak.
…dan meningkatkan tantangan bagi investasi dan
kegiatan usaha
Kelemahan infrastruktur tersebut telah menjadi
keprihatinan yang makin meningkat bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di
Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei tentang penghalang utama
dari operasi dan investasi mereka. Dari tahun 2005 hingga 2009 peringkat
masalah infrastruktur telah meningkat dalam hal jumlah perusahaan yang
menyebutnya sebagai penghalang (Gambar 27). Di tahun 2009 transportasi dan
pasokan energi adalah yang paling banyak dan nomor tiga terbanyak disebut,
dengan sekitar 60 persen responden memandang mereka sebagai salah satu kendala
utama. Kendala telekomunikasi lebih jarang disebutkan tetapi juga meningkat ke
peringkat tengah dari tabel dari tahun 2005 hingga 2009.
…dengan dampak pada pertumbuhan produktivitas dan
ekonomi makro secara agregat
Tantangan dari buruknya infrastruktur bagi
kegiatan perusahaan tampaknya akan terlihat dari tingkat investasi,
produktivitas dan pertumbuhan secara agregat. Sebagai contoh, sebuah studi yang
dilakukan baru-baru ini oleh IMF (Regional Economic Outlook: Asia and Pacific,
October 2010) menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur berhubungan sangat erat
dengan investasi swasta di wilayah Asia Pacific. Studi ini merupakan bagian
dari banyak literatur yang dikembangkan untuk melakukan analisis dan
meng-kuantifikasi hubungan ini (lihat Kotak 5 untuk ulasan singkat). Perbedaan
data, sampel dan pendekatan metodologi membuat penelitian-penelitian tersebut
sulit untuk dibandingkan, tetapi ada konsensus umum terdapat pengaruh positif
dari infrastruktur terhadap pertumbuhan, terutama bila digunakan ukuran
infrastruktur fisik.
… memotivasi investasi yang besar dalam infrastruktur
yang ditargetkan dalam Masterplan Pemerintah (MP3EI) 2011- 2025
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Pemerintah
telah memahami bahwa investasi dalam infrastruktur telah tertinggal dan RPJMN
saat ini memfokuskan lebih banyak investasi publik. Masterplan Ekonomi
Pemerintah yang baru (MP3EI) 2011-2025 yang akan dibahas dalam bagian
selanjutnya, kembali menekankan pentingnya investasi dalam infrastruktur untuk
meningkatkan pertumbuhan. Jika target lebih besar dari IDR 1.786 triliun,
tambahan investasi infrastruktur dibandikangkan dengan total investasi IDR
4.012 triliun di enam koridor ekonomi selama 2011-2025. Investasi infrastruktur
ini mencakup hampir semua area yang saat ini masih lemah., dengan fokus utama
di transportasi danenergy. Akan tetapi, belum terlalu jelas apa yang akan
dilakukan dalam kebijakan insentif
dan perbaikan iklim usaha untuk mempromosikan investasi yang diperlukan oleh pihak swasta dan BUMN
dan perbaikan iklim usaha untuk mempromosikan investasi yang diperlukan oleh pihak swasta dan BUMN
Terdapat debat yang panjang tentang kaitan antara
infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi baik di negara maju maupun di negara
berkembang. Umumnya ada tiga saluran transmisi yang mendapat penekanan.
Pertama, dampak peningkatan produktivitas dari infrastruktur, misalnya, lewat
penurunan biaya transportasi dan peningkatan komunikasi. Kedua, peningkatan
dalam sumberdaya manusia, seperti keluaran pendidikan dan kesehatan yang lebih
baik karena lebih banyaknya klinik dan sekolah yang dibangun terhubung dengan
penduduk. Ketiga, dukungan infrastruktur terhadap skala ekonomi dan cakupan
produksi, sebagai contoh, dengan mendukung pemusatan kegiatan di dalam klaster
atau memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk melayani pasar yang lebih besar.
Sebaliknya terdapat potensi masalah yang berhubungan dengan penurunan investasi
lain dalam jangka pendek (crowding-out effect), walaupun terdapat potensi
peningkatan keuntungan jangka panjang dari investasi infrastruktur. Juga, jika
suatu investasi baru dilakukan dengan mengurangi belanja untuk pemeliharaan
infrastruktur yang ada, maka mungkin ada masalah dalam hal efektivitas
biayanya. Dari sudut pandang ekonomi politik, bergantung pada situasi
kelembagaan, peningkatan tajam dalam belanja infrastruktur dapat mempeluas
perilaku pencari keuntungan, yang sekali lagi berpengaruh terhadap efektivitas
biaya.
Beralih ke empiris, suatu penelitian oleh Straub
(2008) menyoroti variasi antar studi-studi dari sampel dan periode waktu negara
mereka, teknik ekonometriks, penggunaan jumlah investasi infrastruktur atau
pengukuran fisik dan himpunan penekanan pada
pertumbuhan, output atau produktivitas dan antara pengaruh sementara dan jangka panjang. Dari 80 spesifikasi, sekitar setengah menemukan bahwa infrastruktur memiliki pengaruh yang positif dan signifikan, dua per lima tidak menemukan pengaruh dan sisanya menemukan pengaruh yang negatif dan signifikan. Temuan pengaruh positif akan output atau pertumbuhan akan lebih mungkin pada studi-studi yang menggunakan indikator fisik infrastruktur dibanding data investasi (yang tidak selalu dapat memetakan tingkat investasi fisik sebenarnya dengan baik).
pertumbuhan, output atau produktivitas dan antara pengaruh sementara dan jangka panjang. Dari 80 spesifikasi, sekitar setengah menemukan bahwa infrastruktur memiliki pengaruh yang positif dan signifikan, dua per lima tidak menemukan pengaruh dan sisanya menemukan pengaruh yang negatif dan signifikan. Temuan pengaruh positif akan output atau pertumbuhan akan lebih mungkin pada studi-studi yang menggunakan indikator fisik infrastruktur dibanding data investasi (yang tidak selalu dapat memetakan tingkat investasi fisik sebenarnya dengan baik).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar